Festival Majapahit 2021 Festival Majapahit 2021

Napak Tilas Kejayaan Majapahit di Mojokerto

Adrian Perkasa S.Hum, M.A
Sejarawan

Adrian Perkasa S.Hum, M.A
Napak Tilas Kejayaan Majapahit di Mojokerto

Banyaknya tinggalan arkeologis di Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto dan Kecamatan Mojoagung, Kabupaten Jombang, Jawa Timur, menyebabkan kawasan tersebut ditafsirkan sebagai wilayah ibukota Kerajaan Majapahit. Penafsiran ini bahkan telah dilakukan sejak abad ke-19 oleh Pemerintah Kolonial baik Belanda maupun Inggris di bawah Thomas Stamford Raffles. Sejak saat itu, penelitian di kawasan ini terus dilakukan.

Pada awal abad ke-20, Bupati Mojokerto Raden Adipati Kromodjojo Adinegoro telah berusaha mengumpulkan dan melestarikan peninggalan arkeologis di sekitar wilayah tersebut di museum yang didirikannya, Museum Modjokerto. Usaha tersebut dilanjutkan oleh Henri Macaine Pont, seorang arsitek berkebangsaan Belanda. Pasca kemerdekaan Indonesia, upaya untuk melakukan pelestarian dan penelitian kawasan ini terus dilakukan. Tahun 2013 Trowulan pun ditetapkan sebagai Kawasan Cagar Budaya Nasional.  

Sejarah berdirinya Majapahit di abad XIII-XIV M seringkali dikaitkan dengan runtuhnya Kerajaan Singhasari, dan keberadaan orang-orang Tartar (Mongol). Tahun 1292 Masehi, setelah serangan Jayakatwang dari Kediri terhadap Kertanegara di Singhasari, Raden Wijaya (menantu Kertanegara) bersama pasukannya menyelamatkan diri dan mengungsi ke Pulau Madura. Setelah situasi reda, Raden Wijaya kemudian diberikan hutan di daerah Trik. Bersama pengiringnya, antara lain Nambi, Sora, Ranggalawe, dan lainnya serta penduduk setempat, Raden Wijaya berhasil membangun desa yang kemudian dinamakan Majapahit.

Berdasarkan Prasasti Gunung Butak Raden Wijaya menjadi raja Majapahit dengan gelar Krtarajasa Jayawardhana yang memerintah 1293-1309 M. Konon, nama Majapahit berasal dari nama buah Maja yang dikenal dengan rasanya yang pahit. Pada waktu Raden Wijaya bersama-sama orang Madura membuka ”Alasing wong Trik” yang akan digunakan sebagai pemukiman, di sekitar lokasi tempat baru itu banyak dijumpai pohon Maja. Ketika itu para pekerja kehabisan perbekalannya, lalu mereka memakan buah Maja tersebut dan ternyata rasanya pahit. Kisah berdirinya Kerajaan Majapahit ini disebut dalam Kakawin N?garakrt?gama, Kitab Pararaton, dan Kidung Harsawijaya.

Kakawin N?garakrt?gama yang ditulis pada masa keemasan Majapahit menyebutkan beberapa daerah yang merupakan negeri bawahan kerajaan tersebut. Daerah tersebut antara lain:

· Di wilayah Sumatera (Melayu): Jambi, Palembang, Toba, Darmasraya, Kandis, Kahwas, Minangkabau, Siak, Rokan, Kampar, Panai, Kampai, Aru, Mandailing, Tamihang, Perlak, Padang Lawas, Samudera, Lamuri, Bintan, Lampung, Barus.

· Di wilayah Kalimantan (Pulau Tanjungnegara/Tanjungpura): Kapuas–Katingan, Sampit, Kuta Lingga, Kuta Waringin, Sambas, Lawai, Kadandangan, Landak, Samadang, Tirem, Sedu, Barunei, Kalka, Saludung, Solot, Pasir, Barito, Sawaku, Tabalung, Tanjung Kutei, Malano.

· Di wilayah Semenanjung Malaya: Pahang, Salimwang, Kelantan, Terengganu, Johor, Paka, Muar, Dungun, Tumasik, Kelang, Kedah, Jerai, Kanjapiniran.

· Di wilayah sebelah timur Jawa: Bali termasuk Bedahulu dan Lo Gajah, Sukun, Taliwang, Pulau Sapi, Dompo, Sang Hyang Api, Hutan Kendali (Pulau Buru), Gurun, Sasak, Bantayan (Bantaeng), Luwuk, Udamakatraya dan pulau-pulau sekitarnya (Sangir Talaud), Makassar, Buton, Banggai, Kunir, Galiyao (Kepulauan Solor-Alor), Selayar, Suba, Solot, Muar, Wandan, Ambon atau Maluku, Wanin, Seram, Timor, dan beberapa pulau lainnya.

Selain itu, dalam kakawin ini juga menyebutkan beberapa negara-negara sahabat yang memiliki hubungan baik dengan Majapahit yang berada di luar Nusantara. Negara sahabat yang disebutkan ini adalah kerajaan-kerajaan yang berada di Asia Tenggara. Antara lain Syangkayodyapura dan Darmmanagari (Thailand), Marutma dan Rajapura (Myanmar), Campa dan Khmer (Kamboja) dan Yamana (Vietnam).

Kemegahan Majapahit berikut ibukotanya juga dicatat oleh seorang biarawan Katolik Odorico di Pordenone. Agamawan ini datang ke Jawa pada tahun 1322 dimana saat itu Kerajaan Majapahit dipimpin oleh Raja Jayanegara. Berikut adalah kutipan dari catatannya:

“Jawa bisa dikatakan sebagai salah satu pulau terbesar di dunia, dan memiliki penduduk yang merata di seluruh daerahnya; Di pulau ini bisa kita dapati banyak sekali cengkeh, kemukus, pala, dan berbagai macam rempah-rempah lainnya, serta segala jenis bahan makanan yang melimpah, kecuali anggur.

Raja Jawa memiliki istana yang besar dan mewah, yang paling tinggi dari semua yang pernah saya lihat, dengan tangga lebar dan tinggi untuk naik ke lantai bagian atas. Semua anak tangga bergantian dari emas dan perak. Seluruh dinding bagian dalam dilapisi dengan lempengan-lempengan emas, di mana terdapat patung para perwira yang dipahat dengan emas. Masing-masing patung tersebut memiliki mahkota emas yang dihiasi dengan batu-batu mulia. Atap istana ini dari emas murni, dan semua ruang bawah dilapisi dengan pelat emas dan perak.”